HIERARKI TATA RUANG DESA TENGANAN PEGRINGSINGAN BERDASARKAN KONSEP SANGGA MANDALA DAN KEARIFAN LOKAL

Penulis

  • Audie Muhammad Rifqi Pancasila University
  • Muqarrama Pancasila University
  • Salsabilah Mustofa Pancasila University
  • Arassy Maharidha Pancasila University
  • Dewi Khaniya Pancasila University
  • Alfian Fazah Tambunan Pancasila University
  • Febyola Dwi Habsari Pancasila University
  • Jasmine Hanna Hanifah Pancasila University
  • Zaidan Syabani Pancasila University
  • Agus Surya Sadana Pancasila University

Kata Kunci:

tri mandala, pola ruang, kawasan, adat, tenganan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengkaji hierarki tata ruang Desa Adat Tenganan Pegringsingan sebagai manifestasi filosofi Sangga Mandala yang menyelaraskan hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Struktur zonasi desa berorientasi ke pusat permukiman, dengan zona utama berada di bagian tengah dan zona nista terletak di bagian pinggiran desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan data primer dan sekunder melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi literatur untuk mengidentifikasi pola ruang linear berorientasi utara–selatan (kaja–kelod) sebagai struktur utama yang mengatur tatanan permukiman dan interaksi sosial masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembagian zona suci dan profan dalam konsep Sangga Mandala tidak hanya berfungsi sebagai simbol budaya, tetapi beroperasi secara nyata sebagai mekanisme pengendalian ruang yang didukung oleh hukum adat (awig-awig). Sinergi antara tata ruang tradisional dan kearifan lokal tersebut membentuk model permukiman berkelanjutan yang efektif dalam menjaga keseimbangan ekologis serta mempertahankan integritas identitas budaya masyarakat Bali Aga di tengah dinamika perkembangan zaman.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

[1] P. P. Indonesia, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,” 2007.

[2] Google Earth, “Tenganan, Manggis, Karangasem Regency, Bali.” Accessed: Jan. 21, 2026. [Online]. Available: https://earth.google.com/

[3] V. A. Kumurur and S. Damayanti, “Pola Perumahan dan Pemukiman Desa Tenganan Bali,” J. Sabua, vol. 1, no. 1, pp. 1–7, 2009.

[4] D. H. Rahmi, “Change in and continuity of traditional village architecture: the Bali Aga village of Tenganan Pegringsingan, Bali, Indonesia,” Built Herit., vol. 9, no. 1, 2025, doi: 10.1186/s43238-025-00216-w.

[5] H. A. Kusuma and G. Tanuwidjaja, “Desain Rumah Bali Kontemporer Yang Berbasis Konsep Tri Mandala,” Semin. Rumah Tradis. 2014-Transformasi Nilai-nilai Tradis. dalam Arsit. Masa Kini, pp. 1–11, 2014.

[6] I. M. L. Prayoga and A. A. A. O. Saraswati, “The Settlement Pattern of Tenganan Pegringsingan Village as an Embodiment of a Sustainable Village,” Astonjadro, vol. 13, no. 1, pp. 67–73, 2024, doi: 10.32832/astonjadro.v13i1.14361.

[7] dan S. S. Dyah Respati Suryo Sumunar, Suparmini, “Masyarakat Adat Desa Tenganan,” Fak. Ilmu Sos. Univ. Negeri Yogyakarta, pp. 1–14, 2019.

[8] L. D. Setiawan, P. Salura, and B. Fauzy, “The relationship between traditional activities and the mass-space pattern in Bali Aga Customary Village society – Tenganan Pegringsingan,” ARTEKS J. Tek. Arsit., vol. 5, no. 3, pp. 373–390, 2020, doi: 10.30822/arteks.v5i3.536.

[9] S. Maria and I. W. Rupa, “Monografi Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem, Propinsi Bali,” pp. 69–89, 2007.

[10] I. W. Runa, A. A. G. Raka, and I. N. Warnata, “Residential Spatial Design for the Development of Ecotourism in Tenganan Pegringsingan Village, Karangasem, Bali,” Semin. Nas. Pemberdaya. Masy. dan Strateg. Penanggulangan Kemiskin., vol. 11, no. 2, pp. 1–6, 2021, doi: 10.9790/9622-1102060106.

Diterbitkan

2026-08-07

Terbitan

Bagian

Articles